POPMuda.id – Sholat Tarawih merupakan salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan pada bulan suci Ramadhan. Pelaksanaan sholat ini menjadi momen spiritual yang dinanti-nantikan oleh umat Muslim di seluruh dunia, sebagai wujud mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun, di tengah semaraknya ibadah ini, seringkali muncul pertanyaan mengenai jumlah rakaat sholat tarawih yang sebenarnya.
Pertanyaan ini bukan tanpa alasan, sebab di berbagai masjid dan musholla, praktik jumlah rakaat tarawih bisa bervariasi. Perbedaan ini terkadang menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat, terutama bagi mereka yang baru mendalami agama atau ingin memahami lebih jauh. Artikel komprehensif ini akan mengupas tuntas berbagai pandangan dan dalil terkait jumlah rakaat sholat tarawih, serta memberikan pemahaman yang menyeluruh dan objektif.
Memahami Arti ‘Jumlah’ dalam Konteks Ibadah
Sebelum melangkah lebih jauh, penting untuk memahami makna kata ‘jumlah’ itu sendiri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), definisi atau arti kata ‘jumlah’ adalah ‘n banyaknya (tentang bilangan atau sesuatu yang dikumpulkan menjadi satu): ia menghitu’. Dalam konteks sholat tarawih, ‘jumlah rakaat’ merujuk pada banyaknya satuan gerakan sholat yang dimulai dari takbiratul ihram hingga salam.
Perhitungan jumlah ini menjadi krusial karena ia berkaitan dengan tata cara dan sahnya pelaksanaan ibadah. Oleh karena itu, diskusi mengenai jumlah rakaat sholat tarawih memerlukan landasan ilmiah dan dalil-dalil syar’i yang kuat. Hal ini untuk memastikan bahwa setiap praktik ibadah yang dilakukan sesuai dengan tuntunan agama.
Pengertian dan Keutamaan Sholat Tarawih
Sholat Tarawih adalah sholat sunnah yang dikerjakan pada malam hari selama bulan Ramadhan, setelah sholat Isya dan sebelum sholat Witir. Nama ‘Tarawih’ berasal dari bahasa Arab yang berarti ‘istirahat’, karena dahulu para sahabat beristirahat sejenak setelah mengerjakan empat rakaat.
Keutamaan sholat tarawih sangat besar, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: “Barangsiapa ibadah (Tarawih) pada bulan Ramadhan seraya beriman dan ikhlas, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan betapa mulianya ibadah tarawih dalam meraih ampunan dan rahmat Allah SWT.
Sejarah Singkat Sholat Tarawih
Sholat tarawih pertama kali dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat. Beliau mengerjakannya tidak secara rutin setiap malam, karena khawatir sholat tersebut akan diwajibkan kepada umatnya jika dikerjakan terus-menerus.
Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, beliau melihat banyak umat Islam mengerjakan sholat tarawih secara terpisah-pisah. Kemudian, Umar berinisiatif untuk mengumpulkan mereka dan menunjuk seorang imam agar sholat tarawih dapat dilaksanakan secara berjamaah, guna menciptakan persatuan dan kekhusyukan dalam beribadah.
Perdebatan Utama: 8 Rakaat atau 20 Rakaat?
Perbedaan pandangan mengenai jumlah rakaat sholat tarawih menjadi diskusi hangat di kalangan ulama dari masa ke masa. Secara umum, terdapat dua pandangan utama yang paling banyak dianut oleh umat Islam, yaitu 8 rakaat ditambah 3 rakaat Witir, atau 20 rakaat ditambah 3 rakaat Witir.
Kedua pandangan ini memiliki dasar dan dalil masing-masing dari sunnah Nabi Muhammad SAW dan praktik para sahabat. Penting untuk memahami argumen dari kedua belah pihak agar umat Islam dapat menjalankan ibadah dengan keyakinan dan pemahaman yang benar. Toleransi antar sesama muslim sangat dianjurkan dalam menyikapi perbedaan ini.
Pandangan Pertama: Sholat Tarawih 8 Rakaat
Pendapat yang menyatakan jumlah rakaat sholat tarawih adalah 8 rakaat didasarkan pada hadis dari Aisyah RA. Beliau meriwayatkan: “Rasulullah SAW tidak pernah menambah jumlah rakaat sholat malam, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan, lebih dari sebelas rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sebelas rakaat ini biasanya diinterpretasikan sebagai 8 rakaat sholat Tarawih dan 3 rakaat sholat Witir. Para ulama yang mendukung pandangan ini berpendapat bahwa praktik Nabi SAW adalah standar utama dalam ibadah, dan tidak ada riwayat shahih yang menunjukkan Nabi SAW sholat tarawih lebih dari jumlah tersebut. Dalil ini menjadi pijakan kuat bagi golongan yang melaksanakan tarawih 8 rakaat.
Pandangan Kedua: Sholat Tarawih 20 Rakaat
Sementara itu, pendapat yang menyatakan jumlah rakaat sholat tarawih adalah 20 rakaat juga memiliki dasar yang kuat. Pandangan ini merujuk pada praktik yang dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, serta mayoritas ulama salaf setelah mereka. Diriwayatkan bahwa Khalifah Umar memerintahkan Ubay bin Ka’ab untuk mengimami sholat tarawih sebanyak 20 rakaat.
Praktik ini kemudian diikuti oleh banyak tabi’in dan menjadi mayoritas di berbagai belahan dunia Islam selama berabad-abad. Argumentasi lain adalah bahwa sholat malam Nabi SAW yang 11 rakaat tersebut adalah sholat Tahajud yang sifatnya tidak terbatas pada Ramadhan, sedangkan tarawih sebagai qiyam Ramadhan bisa dikerjakan lebih banyak untuk memaksimalkan ibadah. Ijma’ sahabat pada masa Umar RA sering dijadikan dalil pembolehan 20 rakaat.
Dalil-Dalil Pendukung Kedua Pandangan
Untuk memperkuat kedua pandangan di atas, mari kita telaah lebih dalam dalil-dalil yang digunakan. Pemahaman yang komprehensif terhadap dalil-dalil ini akan membantu umat Muslim dalam menentukan pilihan praktik ibadahnya.
Dalil 8 Rakaat Tarawih
Hadis Aisyah RA yang telah disebutkan sebelumnya adalah dalil utama: “Rasulullah SAW tidak pernah menambah jumlah rakaat sholat malam, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan, lebih dari sebelas rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Imam Bukhari dan Muslim adalah perawi hadis paling kredibel, menjadikan riwayat ini sangat shahih. Para pendukung 8 rakaat juga menekankan bahwa kualitas ibadah lebih penting daripada kuantitas, sehingga 8 rakaat yang dikerjakan dengan khusyuk dan tuma’ninah lebih baik. Mereka juga berpendapat bahwa hadis ini secara jelas menunjukkan batasan maksimal shalat malam Nabi, yang kemudian dijadikan patokan untuk shalat tarawih.
Dalil 20 Rakaat Tarawih
Dalil untuk 20 rakaat banyak merujuk pada praktik para sahabat dan ijma’ (konsensus) ulama pada masa setelah Nabi SAW. Diriwayatkan oleh Yazid bin Ruman, “Orang-orang shalat tarawih pada masa Umar bin Khattab sebanyak 23 rakaat (20 tarawih dan 3 witir).” (HR. Malik dalam Al-Muwatta’).
Selain itu, banyak ulama besar seperti Imam Syafi’i, Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad bin Hanbal, dan Imam Malik, meskipun ada riwayat berbeda, cenderung memilih 20 rakaat. Pendukung 20 rakaat juga berargumen bahwa penambahan rakaat ini tidak bertentangan dengan sunnah, karena sholat tarawih hukumnya sunnah dan tidak ada batasan maksimal yang eksplisit dari Nabi SAW selain sholat malamnya. Mereka berpendapat bahwa sunnah Nabi SAW bukan hanya perkataan atau perbuatan beliau secara langsung, tetapi juga apa yang beliau setujui dari para sahabat.
Praktik Sholat Tarawih di Indonesia
Di Indonesia, kedua pandangan mengenai jumlah rakaat sholat tarawih sama-sama diamalkan. Mayoritas masjid, terutama yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU), umumnya melaksanakan sholat tarawih 20 rakaat ditambah 3 rakaat Witir. Sementara itu, masjid-masjid yang berafiliasi dengan Muhammadiyah dan sebagian golongan salafi biasanya melaksanakan sholat tarawih 8 rakaat ditambah 3 rakaat Witir.
Kedua praktik ini berjalan harmonis di tengah masyarakat Muslim Indonesia. Hal ini menunjukkan tingkat toleransi dan saling menghargai perbedaan ijtihad di antara umat Islam. Penting bagi kita untuk memahami bahwa perbedaan ini adalah rahmat dan kekayaan khazanah keilmuan Islam, bukan penyebab perpecahan.
Sholat Tarawih dengan 8 Rakaat
Masjid-masjid yang memilih 8 rakaat biasanya menyelesaikan sholat tarawih dengan durasi yang lebih singkat. Mereka berpegang teguh pada hadis Aisyah RA dan menganggap bahwa itulah jumlah rakaat yang paling sesuai dengan sunnah Nabi SAW.
Biasanya, sholat 8 rakaat ini dilakukan dengan formasi 2 rakaat salam, 2 rakaat salam, hingga empat kali, lalu dilanjutkan dengan sholat Witir 3 rakaat. Pendekatan ini sering kali menekankan pada kualitas dan kekhusyukan ibadah, tanpa mengurangi esensi dari qiyam Ramadhan itu sendiri.
Sholat Tarawih dengan 20 Rakaat
Di sisi lain, praktik sholat tarawih 20 rakaat adalah yang paling umum ditemukan di banyak wilayah Indonesia. Masjid-masjid besar seringkali memilih jumlah ini untuk mengakomodasi jamaah yang ingin berlama-lama dalam ibadah dan mengikuti tradisi yang telah berjalan sejak zaman sahabat.
Formasi 20 rakaat umumnya dilakukan dengan 2 rakaat salam, 2 rakaat salam, dan seterusnya hingga sepuluh kali, kemudian diikuti oleh sholat Witir 3 rakaat. Para jamaah yang melaksanakan 20 rakaat seringkali merasa lebih puas dan mendapatkan pahala lebih banyak karena kuantitas rakaat yang lebih banyak, meskipun bukan berarti kualitasnya berkurang.
Fleksibilitas dalam Beribadah: Mengapa Ada Perbedaan?
Perbedaan jumlah rakaat sholat tarawih adalah bagian dari khilafiyah (perbedaan pendapat) yang diakui dalam fikih Islam. Ini menunjukkan fleksibilitas ajaran Islam dalam mengakomodasi berbagai interpretasi dan pemahaman terhadap nash-nash syar’i.
Faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan ini meliputi: pertama, perbedaan dalam memahami dalil dan metode istinbat hukum (pengambilan hukum); kedua, kondisi dan konteks yang berbeda pada zaman Nabi SAW dan setelahnya; serta ketiga, adanya ruang ijtihad bagi para ulama. Allah SWT dan Rasul-Nya memberikan petunjuk yang cukup luas sehingga umat Islam memiliki pilihan dalam beribadah selama ada dalil yang kuat.
Manakah yang Lebih Baik?
Pertanyaan tentang mana yang lebih baik antara 8 atau 20 rakaat seringkali muncul. Namun, dalam konteks fikih, kedua praktik tersebut adalah sah dan memiliki dasar syar’i. Tidak ada satu pun pandangan yang secara mutlak dapat dikatakan salah atau lebih rendah.
Yang terpenting adalah kekhusyukan, keikhlasan, dan konsistensi dalam menjalankan ibadah. Seseorang yang sholat 8 rakaat dengan penuh penghayatan bisa jadi lebih baik daripada yang sholat 20 rakaat namun terburu-buru dan tanpa fokus. Sebaliknya, seseorang yang memiliki semangat tinggi untuk berlama-lama dalam ibadah dan memilih 20 rakaat juga patut diapresiasi.
Tips Menjalankan Sholat Tarawih dengan Optimal
Terlepas dari perbedaan jumlah rakaat sholat tarawih, ada beberapa tips untuk menjalankan ibadah ini secara optimal. Pertama, niatkan dengan ikhlas karena Allah SWT semata, untuk mencari ridha-Nya dan ampunan dosa. Keikhlasan adalah kunci utama diterimanya setiap amal ibadah.
Kedua, fokus pada kekhusyukan dan tuma’ninah dalam setiap gerakan dan bacaan sholat, jangan terburu-buru. Ketiga, manfaatkan momentum Ramadhan untuk memperbanyak doa dan dzikir, baik di sela-sela rakaat tarawih maupun setelahnya. Keempat, hormati pilihan orang lain mengenai jumlah rakaat yang mereka kerjakan, karena ini adalah masalah ijtihad yang luas.
Kesimpulan
Diskusi mengenai jumlah rakaat sholat tarawih merupakan salah satu aspek penting dalam pemahaman ibadah di bulan Ramadhan. Baik 8 rakaat maupun 20 rakaat, keduanya memiliki dasar dalil yang kuat dari sunnah Nabi SAW dan praktik para sahabat serta ijma’ ulama.
Di Indonesia, kedua praktik ini hidup berdampingan dan menjadi cerminan kekayaan khazanah Islam. Yang terpenting bukanlah pada kuantitas rakaat semata, melainkan pada kualitas ibadah, keikhlasan, kekhusyukan, dan semangat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT di bulan yang penuh berkah ini. Marilah kita jadikan perbedaan ini sebagai ladang untuk saling menghargai dan memperkaya wawasan keislaman kita.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Berapa jumlah rakaat sholat tarawih yang paling umum di Indonesia?
Di Indonesia, ada dua praktik umum: 8 rakaat ditambah 3 rakaat Witir (biasanya di Muhammadiyah dan sebagian salafi) dan 20 rakaat ditambah 3 rakaat Witir (mayoritas masjid, terutama NU). Keduanya memiliki dasar dan dalil masing-masing.
Apakah sholat tarawih 8 rakaat sah?
Ya, sholat tarawih 8 rakaat adalah sah dan memiliki dasar kuat dari hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Aisyah RA. Banyak ulama dan organisasi Islam yang berpegang pada pandangan ini.
Apakah sholat tarawih 20 rakaat sah?
Ya, sholat tarawih 20 rakaat juga sah dan memiliki dasar kuat dari praktik para sahabat pada masa Khalifah Umar bin Khattab serta ijma’ mayoritas ulama salaf. Praktik ini juga umum di banyak negara Muslim.
Mengapa ada perbedaan jumlah rakaat sholat tarawih?
Perbedaan ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu perbedaan dalam memahami dalil dan metode pengambilan hukum dari nash-nash syar’i, serta adanya ruang ijtihad bagi para ulama. Islam memberikan fleksibilitas dalam hal-hal yang tidak ada batasan eksplisit dari Nabi SAW.
Manakah yang lebih baik antara 8 atau 20 rakaat tarawih?
Keduanya adalah baik dan sah, tergantung pada keyakinan dan kemantapan masing-masing individu. Yang terpenting bukanlah kuantitas rakaat semata, melainkan kekhusyukan, keikhlasan, dan konsistensi dalam menjalankan ibadah tersebut.
Apakah sholat witir wajib setelah tarawih?
Sholat Witir adalah sholat sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) yang dikerjakan setelah sholat Tarawih atau sholat malam lainnya. Meskipun tidak wajib dalam arti berdosa jika ditinggalkan, namun sangat dianjurkan untuk melengkapinya karena keutamaannya yang besar sebagai penutup sholat malam.
⏰ Promo Bisa Berakhir Kapan Saja!
Harga bisa naik sewaktu-waktu.
Kalau lagi butuh, ini waktu paling tepat buat beli.






